SENI RUPA PASEMAH
oleh Putra Nusantara pada 18 Oktober 2012 pukul 10:36 ·
Seni Rupa Pasemah
Oleh Erwan Suryanegara
Disampaikan dalam Seminar
Awal Peradaban Manusia di Sumatra Selatan
Festival Sriwijaya XX – 2012
Lahat, 16 Oktober 2012
“RIBANG...ribang kemane aku...”, itu sepenggal lagu daerah kita, sengaja kupinjam guna mengawali pembicaraan kebudayaan di wilayah kita kali ini. Tidak terlalu rumit, maksudnya supaya pembicaraan kita lebih membumi, artinya tidak sekadar berteori, sekadar berwacana yang muluk-muluk, tapi sekadar hanya di lidah dan bibir yang tak mungkin bertulang...!
Kita sudah terlalu sering mendengar kebudayaan kita hebat, besar, terkenal ke mana-mana, dan banyak lagi sebutan-sebutan yang faktanya sekadar bangga-banggaan, salahkah... tidak juga! Lembaga-lembaga sejenis ini dibuat panjang berbaris bak sebuah antrean kelangkaan bbm di mana-mana, untuk mengelola, menggali, mendata, mengkaji, menumbuhkembangkan, melindungi, melestarikan, dan entah apa lagi istilah lainnya. Tapi, tidak perlu kita ingkari bahwa kita sering pula tergelitik, bahkan ada yang marah besar, tapi mau marah ke siapa, kitanya juga bingung sendiri, misal ketika ada negara dulur bangsa yang lain mengklaim ini dan itu akan aset kebudayaan kita.
Fakta semua itu, tentu jangan sampai menyurutkan langkah kita bersama-sama, terus berupaya memperbaikinya demi kemanfaatan bagi masyarakat, bangsa, dan negara kita baik kini pun jauh ke depan, jadi bukan sekadar beromatisme ke masa lalu belaka yang sia-sia. Sejak tadi pagi kita sudah mendengar dari beberapa narasumber, dalam mendialogkan banyak hal, terkait tema kita Awal Peradaban Manusia di Sumatra Selatan ini, yang fokusnya tentang tinggalan megalitik di kawasan ini.
Megalit Pasemah: Tinjauan Estetika Kerupaan
Tema ini disodorkan panitia seminar kita ini, tentunya mengingat latar belakang akademis kami, yang memang pada tahun 2004 – 2006, di Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, telah mengkaji terutama patung-patung megalitik di Bumi Pasemah ini, dengan “pisau bedah” seni rupa, ketika itu kita berkesempatan berbincang dengan Bapak Haris Sukendar, seorang ahli arca megalitik yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, kajian seni rupa kita atas patung megalitik Pasemah, adalah kajian pertama dan dia berbesar hati, karena penelitinya adalah kita sendiri, yang berasal dari Sumatra Selatan, bahkan FSRD – ITB menyatakan, tesis Artefak Purba Pasemah, Analisa Ungkap Rupa Patung Megalitik Pasemah, sebagai tesis terbaik pada tahun akademis 2005/2006.
Kajian konperhensif atas artefak megalitik Pasemah dengan fokus kajian kepada patung-patung megalitiknya, telah melahirkan konsep atau skema pengkajian yang mampu mengungkap makna karya-karya yang dapat diidentifikasi sebagai karya seni rupa apa pun ragam jenisnya, yang tadinya belum diketahui menjadi diketahui, bahkan mengagetkan ketika itu diungkapkan, karena ternyata pada bacaan-bacaan sebelumnya, sering ada kesalahan baca yang membiaskan pemaknaan pun pemahaman atas suatu karya seni rupa.

Situs Purba di Pasemah
DARI historiografinya megalitik Pasemah sudah diteliti sejak masa penjajahan Belanda, dan pada tahun 1930 – 1931 seorang arkeolog kawakan asal Belanda, A.N.J. Th. A. Th. Van der Hoop, menelusuri wilayah Dataran Tinggi Pasemah, yang meliputi Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, dan Jambi, dalam rangka penelitiannya sehingga melahirkan tulisannya, berjudul “Megalithic Remains in South-Sumatra”. Pada saat itu Hoop berhasil mematahkan spekulasi sebelumnya, yang mengatakan bahwa patung batu Pasemah merupakan pengaruh dari kebudayaan Hindu. Secara tegas Hoop membantahnya bahwa temuan artefak-artefak di Dataran Tinggi Pasemah adalah peninggalan manusia prasejarah dengan tradisi megalitiknya, dan tidak ditemukan ciri-ciri Hinduistik.

Sejak masa kolonial Belanda itu, hingga era kemerdekaan dan sampai sekarang, bahkan kini masyarakat pun turut berperan serta, sehingga artefak-artefak tinggalan dari masa tradisi megalitik di kawasan Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, terus ditemukan dari hari ke hari, maka semakin banyak jumlah satuan temuannya. Jadi, tidak terlalu berlebihan bila Van der Hoop ketika melakukan penelitiannya di kawasan Dataran Tinggi Pasemah kala itu, menjuluki Lahat (sekarang baca: Kab. Lahat dan Kota Pagaralam) sebagai center of megalithic (pusat atau kawasan yang terbanyak ditemukan artefak megalitiknya), hal itu tentu selaras dengan julukan bagi Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam saat ini, sebagai Kawasan Sejuta Megalit.
Bila memperhatikan secara keseluruhan wilayah sebaran situs-situs megalitik di kawasan Dataran Tinggi Pasemah, maka akan tampak adanya kecenderungan atau kejelian dari masyarakat prasejarah Pasemah untuk menfaatkan kondisi alam bumi Pasemah yang ideal itu. Alam subur menghijau dan berbukit-bukit dengan hutan tropisnya, tersedianya sumber air yang melimpah dari danau kecil atau tebat, dan sungai dengan anak-anak sungainya. Juga, secara khusus biasanya di situs pilihan masyarakat prasejarah tersebut, memang tampak sudah terhampar atau tersedia secara alami bahan berupa bongkahan-bongkahan batu besar, yang memungkinkan dan memudahkan bagi mereka dalam hajat pembuatan artefak-artefak batu monumental tersebut. Artinya, artefak purba di bumi Pasemah itu berbeda dengan keberadaan Sphinx, Piramida, dan sebagainya termasuk Borobudur yang bersifat mobile art.
Umumnya material batuan yang ada di bumi Pasemah tergolong batuan beku dengan jenis batuan “andesit”, yang secara visual ciri-cirinya dapat dikenali melalui warna batu-batuan tersebut. Ketika disurvei, batuan jenis andesit ini cenderung terlihat menampilkan warna-warna seperti: putih keabu-abuan menuju kehitam-hitaman, biru gelap, kuning, dan atau coklat kemerah-merahan. Berdasarkan analisis kimiawi yang dilakukan oleh Colonial Institute, Amsterdam yang bekerja sama dengan Mineralogical and Geological Institute of The State – University, Utrecht , terhadap batuan yang sampelnya berasal dari situs Tegur Wangi, dapat diketahui bahwa jenis batuan andesit di Pasemah ini, terbentuk atas senyawa beberapa unsur kimia seperti: SiO2, Pb, Ca, Na, Fe, Al, dan K, yang berkesesuaian dengan unsur-unsur kimia pada kandungan lava gunung vulkanik.
Bahasa Kata dan Rupa
OLEH banyak ahli, dikatakan bahwa pada masa-masa awal hidup dan kehidupannya, manusia belum mengenal atau belum menggunakan bahasa tulis dalam berkomunikasi. Menurut R. Soekmono, masa itu disebut “nirleka” atau artinya belum mengenal tulisan. Masa nirleka yang umumnya dikenal sebagai masa prasejarah, memiliki rentang waktu jauh lebih panjang, bila dibandingkan dengan masa setelah manusia mengenal bahasa tulis, yang dikatakan sebagai zaman sejarah.
Dari panjangnya lika-liku perjalanan peradaban manusia itu, seperti pada masa nirleka sebagai salah-satu bagiannya, saat itu manusia ketika berkomunikasi sesungguhnya sudah mengenal dan menggunakan bahasa kata (berbicara) demikian juga bahasa rupa, sebagai pendukung proses sosialnya.
Dalam hal bahasa kata, mungkin saja dapat dikatakan bahwa tata bahasa yang ada atau berlaku dan digunakan ketika itu belum serumit dibandingkan tata bahasa masa sekarang (tetapi sayang tidak ada buktinya!). Lain halnya dengan bahasa rupa yang artefaktual, saat itu ternyata mereka telah memiliki bahasa rupa dengan kekayaan tata rupanya yang khas.
Bukti-bukti temuan (artefak) dari peninggalan peradaban manusia-manusia masa prasejarah, yang berupa gambar atau lukisan di dinding-dinding dan langit-langit gua batu dan atau curug-curug batu karang, dikatakan oleh para ahli sebagai ‘buku pintar’ dari masa itu, merupakan pedoman dan dipedomani manusia prasejarah selama beribu tahun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebagian ahli seni rupa membatasi bahasa rupa, menjadi estetik, simbolik, dan story telling atau bercerita. Primadi Tabrani membatasi bahasa rupa ini hanya untuk aspek bercerita, karena menurutnya pada aspek estetis dan simbolis tidak spesifik disebut sebagai bahasa rupa estetis maupun bahasa rupa simbolis, tetapi kaidah estetis dan makna simbolis, bahkan dalam penelitiannya tentang bahasa rupa ini Primadi lebih mengkhususkan pada gambar (dua dimensional) yang deskriptif, bukan yang geometris, abstrak, ragam hias, isim, dan lain sebagainya.

Demikian pula bila berdasarkan ungkap rupa atas artefak-artefak megalitik, dalam hal ini adalah patung (idol) yang terdapat di Dataran Tinggi Pasemah, merupakan representasi leluhur dan dipedomani sebagai sarana pemujaan kepada arwah leluhur, oleh generasi-generasi selanjutnya secara turun-temurun, artinya patung megalitik pun sebagai karya seni rupa yang mengandung pesan, jadi tidak harus berupa gambar yang bercerita atau strory telling, sebagaimana yang dimaksud sebagian ahli seni rupa sebagai bahasa rupa.
Untuk lebih dapat memahami karya rupa yang kasat mata, harus dikaji baik secara fisik maupun nonfisik, dan diungkapkan segala sesuatu yang melingkupi suatu karya seni rupa itu, baik perupaan, nilai estetis, makna simbolis, dan termasuk pula nilai-nilai magis–mistis sesuai kosmologi yang menyertainya.
Dari bahasa rupa dan atau ungkap rupa yang di dalamnya juga terdapat tata rupa, maka dapat diperkirakan bahwasanya perkembangan bahasa kata yang belum tertulis di masa prasejarah itu, tentulah tidak akan jauh berbeda dengan perkembangan bahasa rupanya, atau dengan kata lain bahasa rupa akan berjalan selaras dengan bahasa kata, kala itu.
Ungkap rupa patung megalitik di Dataran Tinggi Pasemah ini, merupakan upaya merevitalisasi kandungan potensi lokal yang ada, sehingga akan dapat menjadi sumber inspirasi dalam melakukan eksplorasi bagi para penggiat seni rupa khususnya, dan para kreator pada umumnya, yang juga diharapkan dapat melahirkan gagasan pun karya-karya yang inovatif dan kreatif, serta dapat bermanfaat bagi masyarakat kini dan jauh ke depan.
Ungkap Rupa Patung Megalitik di Pasemah
MEMPERHATIKAN situs-situs di dataran tinggi Pasemah, terbukti bahwa artefak-artefak megalitik jenis patung memang memiliki jumlah terbanyak, dibandingkan dengan artefak megalitik lainnya. Dari situs megalitik yang ada, sesuai wujud perupaannya patung megalitik tersebut dapat dibedakan menjadi dua kategori. Kategori dimaksud adalah berdasarkan perwujudan atau perupaan tokoh yang mereprentasikan leluhur mereka, yaitu pertama, patung megalitik Pasemah yang menggambarkan satu wujud rupa atau sosok tunggal, dapat berupa seorang tokoh manusia atau seekor binatang saja; kedua, patung megalitik Pasemah yang menggambarkan lebih dari satu wujud rupa atau sosok jamak, dapat berupa manusia dengan manusia atau manusia dengan binatang.
Patung Megalitik Berwujud Rupa Tunggal di Pasemah
Ada beberapa situs yang memiliki patung megalitik berwujud rupa atau sosok tunggal, baik itu berupa manusia maupun binatang, contohnya:

Berdasarkan kedua patung yang berobjek tunggal tersebut di atas, jelas bahwa para pematung Pasemah di kala itu memang merupakan pematung-pematung batu yang mumpuni, handal secara teknis, dan berkualitas. Patung Orang membawa nekara di Belumai, termasuk salah satu dari artefak patung megalitik Pasemah yang kondisinya masih lengkap. Patung di Belumai ini secara teknis juga tergolong sempurna, karena dilihat dari unsur-unsur perupaannya seperti garis, volume, tekstur, shape, dan bentuk pada patung ini berhasil diolah secara harmonis-estetis.
Memperhatikan proporsi kepala patung yang cenderung dibesarkan, tampak sebagai center atau pusat perhatian dari patung ini. Dengan pengolahan bentuk mata, hidung, bibir/mulut, rahang, sejenis penutup kepala, nekara, dan benda berbentuk lingkaran yang didukungnya, serta sikap tubuh dari si tokoh yang dipahatkan sedemikian rupa, telah berhasil menyelaraskan bentuk patung Orang membawa nekara ini secara keseluruhan, sehingga estetis dan tampilannya unity.
Pada patung Kerbau yang dipahatkan terbaring di situs Geramat, secara kebentukan terlihat bahwa pematungnya telah berhasil memvisualkan rasa bentuknya secara realis-naturalis. Patung Kerbau yang sekarang sudah tanpa kepala ini, tampaknya adalah seekor kerbau yang sehat dan gemuk. Dengan posisi keterbaringan badan kerbau yang berada di depan sebelah kiri, tidak jauh dari sebuah patung lainnya yang berupa Orang Menunggang Kerbau, secara langsung telah berhasil mengingatkan kita kepada prosesi upacara sesembahan atau ritual pengorbanan.
Patung megalitik Pasemah yang berwujud rupa tunggal tersebut di atas baik untuk sosok manusia maupun sosok hewan, yang berdasarkan perupaannya tampak cenderung realistik dengan memvisualkan seluruh bagian tubuhnya (anggota badan), kecuali untuk patung kerbau yang bagian kepalanya memang sudah patah (hilang). Ukuran kedua patung ini dapat dikatakan volumenya relatif berukuran lebih kecil, bila dibandingkan dengan ukuran patung-patung megalitik yang tersebar di kawasan Bumi Pasemah pada umumnya.

Patung Megalitik Berwujud Rupa Jamak di Pasemah
DARI semua situs prasejarah di Pasemah yang memiliki artefak patung megalitik, banyak dijumpai patung megalitik yang memvisualkan wujud rupa jamak, baik itu manusia dengan manusia maupun manusia dengan binatang. Ada satu patung yang memperlihatkan ciri genitalnya, yaitu Ibu dengan anaknya di Tinggi Hari.
Patung megalitik di Pasemah berbeda dengan patung megalitik di daearah lain, hal ini selaras dengan Haris Sukendar sebagai salah seorang pakar arca megalitik Indonesia. Melalui kaji banding artefaktual patung megalitik, diketahui bahwa tidak ditemukan patung-patung megalitik prasejarah seperti yang terdapat di bumi Pasemah, hal ini yang diakui oleh Haris Sukendar.

Di wilayah lain di banyak tempat, patung megalitiknya masih tergolong “arca menhir” atau sering disebut totem, dimana dalam hal perupaannya masih bersifat statis-prontal dan sederhana (cenderung lebih mengutamakan kepala) biasanya disebut “totem”, yang belum selengkap seperti perupaan sosok tokoh pada patung megalitik di Pasemah.

Lukisan di Dinding Rumah Batu
Pada rumah (kubur) batu Tanjung Aro, yang masih tersisa dari lukisan-lukisan prasejarah itu kini hanyalah berupa bercak-bercak warna-warna hitam dan merah. Juga ada beberapa dari lukisan itu yang sudah dikotori oleh ulah-ulah nakal para vandalis. Berdasarkan data baik yang ada di Balai Arkeologi Palembang maupun Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta, memang dikatakan bahwa sekarang kondisi lukisan-lukisan dinding kubur batu di Pasemah tersebut sudah banyak yang aus. Namun masih beruntung, penyelamatan data-data yang berupa dokumentasi foto lukisan-lukisan tersebut, sudah tersimpan di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta.
Lukisan-lukisan itu menggunakan warna-warna seperti merah, kuning, putih, dan hitam (dari bahan pewarna alami). Juga dapat dikatakan bahwa perupaan tokoh orang yang dilukiskan relatif sama dengan perupaan tokoh orang yang dipatungkan. Objek lukisan tersebut tampak menggambarkan manusia dengan tipe austronesoid, burung hantu/harimau, kerbau, nekara, belati, serta garis berupa sulur-sulur dan lingkaran yang simbolik.
Menilik dari teknik dan perupaan objek lukisan-lukisan Pasemah itu, tampaknya perlu digugurkan konvensi selama ini yang mengatakan seni lukis Indonesia adalah ‘dekoratif’, karena bukti dari beberapa lukisan Pasemah secara tegas membantah itu, di Pasemah ada juga yang ekspresif. Perupaan objek lukisan-lukisan itu menunjukkan keselarasan dengan bentuk-bentuk pada patung megalitiknya yang tiga dimensional, artinya dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan baik karya rupa dua dimensi maupun karya rupa tiga dimensi di Dataran Tinggi Pasemah, merupakan satu masa atau sezaman.

Batu dan Dinding Batu Bergambar Gores
SATU jenis lagi artefak megalitik Pasemah yang kaya ragamnya itu adalah artefak megalit yang berwujud batu bergambar dengan teknik gores atau toreh (batu bergores), dan dinding batu bergambar dengan teknik gores (dinding batu bergores). Artefak megalitik jenis ini ditemukan di beberapa lokasi situs megalitik Pasemah. Di situs`Tebat Sibentur, Kabupaten Lahat, ditemukan dua bongkah pecahan batu yang memiliki gambar gores.

Artefak megalitik yang berupa dinding batu bergores hanya ditemukan dan ada di situs Bukit Selayar, Kota Pagaralam. Artefak ini berupa sebuah dinding batu karang yang cukup luas dan vertikal, di permukaan dinding batu karang itulah gambar gores tersebut berada.


Ragam Hias
PERWUJUDAN ragam hias pada saat tradisi megalitik Pasemah masih berlangsung kala itu, tampaknya sangat kental dengan fungsi dan makna simbolis-mistisnya. Namun, dari pola penempatannya pada masing-masing artefak terlihat juga, adanya semangat untuk menghias, misalnya seperti yang dijumpai pada menhir ‘Batu Aji’ di dusun Karang Dalam, Kabupaten Lahat, juga pada patung-patung megalitik Pasemah umumnya. Terutama jenis ragam hias purba, seperti tumpal, lingkaran, dan meander.


Ciri Khas Seni Rupa Pasemah
PERWUJUDAN bentuk atau perupaan patung megalitik di bumi Pasemah memiliki ciri khas, yakni besifat dinamis-piktorial dan cenderung realistik, baik untuk sosok orang yang menggambarkan tipe ras austromelanesoid maupun binatang. Patung megalitik Pasemah merepresentasikan arwah nenek moyang, selalu dalam sikap tubuh cenderung condong ke depan, dengan kepala atau wajah juga cenderung menengadah. Visualisasi demikian itu sebagai upaya guna memberikan gambaran kewibawaan dan keagungan kepada sang tokoh (nenek moyang) yang dijadikan pujaan.
Patung megalitik Pasemah dibuat karena merupakan salah satu media penting dalam pelaksanaan upacara dan ritual untuk pemujaan arwah nenek moyang, serta merupakan kebutuhan pokok religius masyarakat prasejarah yang bersifat mistis. Namun dengan perupaan yang beragam dari setiap patung, mengindikasikan ada dan diakuinya peran ekspresi pribadi si seniman pematungnya kala itu.

Patung megalitik Pasemah cenderung selalu bersama atau berdekatan dengan artefak megalitik lain, seperti lumpang batu, batu datar, dsb, maka patung megalitik Pasemah juga termasuk menhir atau batu tegak lainnya yang bersifat vertikal, merupakan perlambangan dari atau sebagai unsur laki-laki. Lumpang batu, dolmen, balok batu, dan batu datar yang bersifat horizontal adalah melambangkan unsur perempuan. Konsep laki-laki dan perempuan tersebut merupakan simbolik dari kesuburan, sesuai konsep berpikir dalam budaya mistis, kemudian pada masa tradisi lebih lanjut (zaman Klasik Hindu) disebut atau dikenal dengan istilah “lingga–yoni”.
Patung-patung megalitik di Pasemah tidak mengenal adanya pengulangan bentuk yang persis sama, artinya pada masing-masing patung visual atau perupaannya selalu berbeda, baik untuk sosok manusia juga binatang. Sedangkan kesamaan yang ada terutama terletak pada bahan atau medianya berupa jenis batuan andesit, dan beberapa kecenderungan kesamaan lainnya, seperti tema, gaya perupaan, tidak berdiri tegak, wajah cenderung menengadah, bergelang kaki dan gelang tangan dari lempengan logam, bersama gajah, kerbau, ular, dan atau yang lainnya. Masing-masing patung yang berbeda namun sekaligus memiliki beberapa kesamaan ini dikenal dan disebut juga sebagai patung yang bersifat “tunggal jamak” atau “jamak–tunggal” (bhinneka tunggal ika = keberagaman rupa yang satu konsep), inipun menjadi salah satu dari ciri khas patung megalitik Pasemah.
Kecenderungan kaki dari sosok tokoh orang yang dipatungkan pada patung-patung megalitik di Pasemah juga selalu dengan sikap ditekuk, dan atau dilipat. Di Pasemah tidak ditemukan patung megalitik yang dengan sikap kaki terbentang lurus atau berdiri tegak. Beberapa patung megalitik Pasemah ada yang sikapnya dalam posisi duduk bersimpuh di atas kedua kaki, dan ada pula patung yang duduk dengan lutut berdiri sejajar dada.
Para pematung Pasemah pada masa itu adalah “seniman” yang memiliki rasa atau kepekaan bentuk (form) sangat baik, hal ini terlihat dari perupaan pada karya-karya patung yang mereka buat dan ditemukan di Dataran Tinggi Pasemah. Di lapangan kondisi patung-patung tersebut sudah banyak mengalami pelapukan dimakan usia, namun dari perupaan terutama keadaan permukaan (tekstur) yang tersisa, masih dapat dirasakan bagaimana keadaan kulit terutama pada sosok beberapa binatang seperti yang dipatungkan di Pasemah.
Masyarakat prasejarah Pasemah di masa itu adalah masyarakat pendukung budaya atau tradisi megalitik. Sebagaimana halnya dalam suatu budaya megalitik, maka masyarakat prasejarah di bumi Pasemah memiliki keyakinan atau kepercayaan terhadap arwah nenek moyangnya. Menurut kepercayaan ini bahwa arwah nenek moyang tersebut bersemayam di tempat-tempat suci atau “dunia atas”, yaitu di puncak-puncak gunung dan atau bukit-bukit yang tinggi.
Patung megalitik di Pasemah umumnya selalu diarah hadapkan ke bukit atau gunung yang ada. Untuk situs Tanjung Sirih dan komplek situs Tinggi Hari, bahkan letaknya memang sudah berada di puncak bukit. Arah hadap patung megalitik Pasemah dan kedua situs tersebut yang berada di puncak bukit, membuktikan adanya hubungan erat dengan kepercayaan mistis masyarakat pendukungnya, bahwa arwah nenek moyang mereka memang bersemayam di puncak bukit atau gunung.
Patung megalitik Pasemah adalah patung megalitik khas Indonesia, karena tidak ditemukan patung-patung megalitik lainnya yang sezaman dan sejenis (dead monuments) dengan patung megalitik di Pasemah, yang bersifat dinamis piktorial dan cenderung realistik, dengan perupaan sosok (kepala, badan, kaki dan tangan) secara lengkap. Patung megalitik Pasemah merupakan karya patung megalitik khususnya media batu yang terbaik di zamannya, karena telah menggunakan teknologi berupa mata pahat yang terbuat dari logam, sehingga para pembuatnya dapat menerapkan konsep berkarya dengan dukungan kemampuan teknis mematungnya yang maksimal.
Tradisi megalitik di bumi Pasemah secara keseluruhan merepresentasikan budaya dari suatu masyarakat yang bersifat agraris dengan pola ladang, hal ini tercermin terutama dari keberadaan artefak-artefak megalitik berupa lumpang batu, serta tampilnya patung dengan sosok objek manusia dan atau binatang di beberapa situs megalitik Pasemah. Lumpang batu dengan lubangnya yang bervarian satu, dua, dan empat tentu secara fungsional mengindikasikan adanya ragam jenis biji-bijian hasil ladang atau perkebunan, yang harus ditumbuk untuk sarana dalam ritual tertentu dengan masing-masing lubang berbeda.
Perupaan atribut yang selalu ikut dipahatkan pada patung-patung megalitik di Pasemah, khususnya pada patung yang objek utamanya manusia. Atribut baju yang tampak membungkus ketat tubuh si tokoh, dengan dilengkapi sebilah belati besar atau pedang, tentu dapat dimaknai bahwa tokoh itu adalah seorang prajurit atau panglima perang yang berjiwa kesatria. Atribut kalung yang berbentuk unik, tentu untuk menggambarkan bahwa si tokoh bukanlah orang biasa. Begitu pula dengan atribut gelang khususnya untuk gelang kaki, yang memiliki jumlah bilangan bervariasi dari satu hingga sembilan (patung “Imam” bergelang kaki sembilan). Varian gelang kaki ini tampaknya ingin menandai bahwa si tokoh adalah penguasa dari satu, empat, lima, tujuh, atau sembilan aliran sungai. Sungai dimaksud tentunya adalah sungai yang berada di wilayah teritorial Batang Hari Sembilan, meliputi daerah-daerah di Sumatra bagian Selatan yakni: Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung dengan sembilan buah sungainya.
Karya seni rupa prasejarah di Dataran Tinggi Pasemah telah menunjukkan keragaman jenis karya rupa, seperti patung, lukisan atau gambar, ragam hias, batu atau dinding batu bergores, semuanya dapat dikatakan menjadi indikasi cikal-bakal atau masa awal beragamnya jenis karya seni rupa Nusantara, yang kemudian berproses dalam rentang masanya yang panjang hingga sampai kepada seni rupa Indonesia masa kini.
IMPIAN MUSEUM ALAM TERBUKA MEGALITIK PASEMAH &
TAMAN MINI MEGALITIK PASEMAH
Banyak penelitian, hanya memberikan hasil atau manfaat bagi para peneliti atau lembaga di seputarnya, misal: hanya sebagai objek penelitian, proyek penelitian dan pendokumentasian, menjadi karya tulis (buku), dimuat/diberitakan ke media cetak/elektronik, dan sebagainya. Sementara, masyarakat di seputar situs atau di wilayah penelitian dimaksud, cenderung hanya seolah “pelayan” bagi kelancaran berlangsungnya suatu penelitian, bila proyek penelitian itu berakhir, masyarakat pun gigit jari.
Karenanyalah, juga termasuk kegiatan-kegiatan seperti seminar yang sedang kita ikuti bersama kali ini, hendaknya jangan lagi hanya terhenti pada kesimpulan-kesimpulan tertulis atau jargon-jargon idealis-romantis belaka, tetapi yang penting sekarang adalah bagaimana pengimplementasiannya, yang dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya, baik kini pun jauh ke depan terutama bagi negara bangsa tercinta ini. Kalau tidak, jangan salahkan seperti masyarakat di Tengger, masyarakat Badui, yang kini cenderung “jengah” kepada aktivitas penelitian termasuk kewisataan.
Museum alam terbuka dimaksud, merupakan upaya pelestarian secara konperhensif, dengan tetap menjaga dan mempertahankan keaslian dan kesrian lingkungan situs pun artefaktual kandungannya, dan Taman miniatur dimaksudkan lebih kepada adanya: Pusat data, pusat kajian, pusat informasi dan pengembangan, dan pusat kepariwisataan secara menyeluruh.

Dengan museum dan taman miniatur di dalamnya ini dimaksudkan mencoba untuk menjadikan hasil penelitian, juga dapat memberikan manfaat yang bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat di sekitar lokasi penelitian pun masyarakat pada umumnya. Museum dengan taman miniaturnya itu adalah satu kesatuan konsep sebagai upaya penggalian, pendataan, pendokumentasian, pengkajian, pelestarian, pusat informasi dan pengembangan aset budaya tersebut, dengan prinsif tetap menjaga keseimbangan alam lingkungan sekitar, dan tidak merusakbiaskan situs pun artefaktualnya atas alasan apapun...!
SEMOGA...Erwan Suryanegara
Oleh Erwan Suryanegara
Disampaikan dalam Seminar
Awal Peradaban Manusia di Sumatra Selatan
Festival Sriwijaya XX – 2012
Lahat, 16 Oktober 2012
“RIBANG...ribang kemane aku...”, itu sepenggal lagu daerah kita, sengaja kupinjam guna mengawali pembicaraan kebudayaan di wilayah kita kali ini. Tidak terlalu rumit, maksudnya supaya pembicaraan kita lebih membumi, artinya tidak sekadar berteori, sekadar berwacana yang muluk-muluk, tapi sekadar hanya di lidah dan bibir yang tak mungkin bertulang...!
Kita sudah terlalu sering mendengar kebudayaan kita hebat, besar, terkenal ke mana-mana, dan banyak lagi sebutan-sebutan yang faktanya sekadar bangga-banggaan, salahkah... tidak juga! Lembaga-lembaga sejenis ini dibuat panjang berbaris bak sebuah antrean kelangkaan bbm di mana-mana, untuk mengelola, menggali, mendata, mengkaji, menumbuhkembangkan, melindungi, melestarikan, dan entah apa lagi istilah lainnya. Tapi, tidak perlu kita ingkari bahwa kita sering pula tergelitik, bahkan ada yang marah besar, tapi mau marah ke siapa, kitanya juga bingung sendiri, misal ketika ada negara dulur bangsa yang lain mengklaim ini dan itu akan aset kebudayaan kita.
Fakta semua itu, tentu jangan sampai menyurutkan langkah kita bersama-sama, terus berupaya memperbaikinya demi kemanfaatan bagi masyarakat, bangsa, dan negara kita baik kini pun jauh ke depan, jadi bukan sekadar beromatisme ke masa lalu belaka yang sia-sia. Sejak tadi pagi kita sudah mendengar dari beberapa narasumber, dalam mendialogkan banyak hal, terkait tema kita Awal Peradaban Manusia di Sumatra Selatan ini, yang fokusnya tentang tinggalan megalitik di kawasan ini.
Megalit Pasemah: Tinjauan Estetika Kerupaan
Tema ini disodorkan panitia seminar kita ini, tentunya mengingat latar belakang akademis kami, yang memang pada tahun 2004 – 2006, di Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, telah mengkaji terutama patung-patung megalitik di Bumi Pasemah ini, dengan “pisau bedah” seni rupa, ketika itu kita berkesempatan berbincang dengan Bapak Haris Sukendar, seorang ahli arca megalitik yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, kajian seni rupa kita atas patung megalitik Pasemah, adalah kajian pertama dan dia berbesar hati, karena penelitinya adalah kita sendiri, yang berasal dari Sumatra Selatan, bahkan FSRD – ITB menyatakan, tesis Artefak Purba Pasemah, Analisa Ungkap Rupa Patung Megalitik Pasemah, sebagai tesis terbaik pada tahun akademis 2005/2006.
Kajian konperhensif atas artefak megalitik Pasemah dengan fokus kajian kepada patung-patung megalitiknya, telah melahirkan konsep atau skema pengkajian yang mampu mengungkap makna karya-karya yang dapat diidentifikasi sebagai karya seni rupa apa pun ragam jenisnya, yang tadinya belum diketahui menjadi diketahui, bahkan mengagetkan ketika itu diungkapkan, karena ternyata pada bacaan-bacaan sebelumnya, sering ada kesalahan baca yang membiaskan pemaknaan pun pemahaman atas suatu karya seni rupa.

Skema Ungkap Rupa
Situs Purba di Pasemah
DARI historiografinya megalitik Pasemah sudah diteliti sejak masa penjajahan Belanda, dan pada tahun 1930 – 1931 seorang arkeolog kawakan asal Belanda, A.N.J. Th. A. Th. Van der Hoop, menelusuri wilayah Dataran Tinggi Pasemah, yang meliputi Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, dan Jambi, dalam rangka penelitiannya sehingga melahirkan tulisannya, berjudul “Megalithic Remains in South-Sumatra”. Pada saat itu Hoop berhasil mematahkan spekulasi sebelumnya, yang mengatakan bahwa patung batu Pasemah merupakan pengaruh dari kebudayaan Hindu. Secara tegas Hoop membantahnya bahwa temuan artefak-artefak di Dataran Tinggi Pasemah adalah peninggalan manusia prasejarah dengan tradisi megalitiknya, dan tidak ditemukan ciri-ciri Hinduistik.

Wilayah sebar situs prasejarah Pasemah, di Lahat dan Pagaralam, 2005-2006
Sejak masa kolonial Belanda itu, hingga era kemerdekaan dan sampai sekarang, bahkan kini masyarakat pun turut berperan serta, sehingga artefak-artefak tinggalan dari masa tradisi megalitik di kawasan Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, terus ditemukan dari hari ke hari, maka semakin banyak jumlah satuan temuannya. Jadi, tidak terlalu berlebihan bila Van der Hoop ketika melakukan penelitiannya di kawasan Dataran Tinggi Pasemah kala itu, menjuluki Lahat (sekarang baca: Kab. Lahat dan Kota Pagaralam) sebagai center of megalithic (pusat atau kawasan yang terbanyak ditemukan artefak megalitiknya), hal itu tentu selaras dengan julukan bagi Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam saat ini, sebagai Kawasan Sejuta Megalit.
Bila memperhatikan secara keseluruhan wilayah sebaran situs-situs megalitik di kawasan Dataran Tinggi Pasemah, maka akan tampak adanya kecenderungan atau kejelian dari masyarakat prasejarah Pasemah untuk menfaatkan kondisi alam bumi Pasemah yang ideal itu. Alam subur menghijau dan berbukit-bukit dengan hutan tropisnya, tersedianya sumber air yang melimpah dari danau kecil atau tebat, dan sungai dengan anak-anak sungainya. Juga, secara khusus biasanya di situs pilihan masyarakat prasejarah tersebut, memang tampak sudah terhampar atau tersedia secara alami bahan berupa bongkahan-bongkahan batu besar, yang memungkinkan dan memudahkan bagi mereka dalam hajat pembuatan artefak-artefak batu monumental tersebut. Artinya, artefak purba di bumi Pasemah itu berbeda dengan keberadaan Sphinx, Piramida, dan sebagainya termasuk Borobudur yang bersifat mobile art.
Umumnya material batuan yang ada di bumi Pasemah tergolong batuan beku dengan jenis batuan “andesit”, yang secara visual ciri-cirinya dapat dikenali melalui warna batu-batuan tersebut. Ketika disurvei, batuan jenis andesit ini cenderung terlihat menampilkan warna-warna seperti: putih keabu-abuan menuju kehitam-hitaman, biru gelap, kuning, dan atau coklat kemerah-merahan. Berdasarkan analisis kimiawi yang dilakukan oleh Colonial Institute, Amsterdam yang bekerja sama dengan Mineralogical and Geological Institute of The State – University, Utrecht , terhadap batuan yang sampelnya berasal dari situs Tegur Wangi, dapat diketahui bahwa jenis batuan andesit di Pasemah ini, terbentuk atas senyawa beberapa unsur kimia seperti: SiO2, Pb, Ca, Na, Fe, Al, dan K, yang berkesesuaian dengan unsur-unsur kimia pada kandungan lava gunung vulkanik.
Bahasa Kata dan Rupa
OLEH banyak ahli, dikatakan bahwa pada masa-masa awal hidup dan kehidupannya, manusia belum mengenal atau belum menggunakan bahasa tulis dalam berkomunikasi. Menurut R. Soekmono, masa itu disebut “nirleka” atau artinya belum mengenal tulisan. Masa nirleka yang umumnya dikenal sebagai masa prasejarah, memiliki rentang waktu jauh lebih panjang, bila dibandingkan dengan masa setelah manusia mengenal bahasa tulis, yang dikatakan sebagai zaman sejarah.
Dari panjangnya lika-liku perjalanan peradaban manusia itu, seperti pada masa nirleka sebagai salah-satu bagiannya, saat itu manusia ketika berkomunikasi sesungguhnya sudah mengenal dan menggunakan bahasa kata (berbicara) demikian juga bahasa rupa, sebagai pendukung proses sosialnya.
Dalam hal bahasa kata, mungkin saja dapat dikatakan bahwa tata bahasa yang ada atau berlaku dan digunakan ketika itu belum serumit dibandingkan tata bahasa masa sekarang (tetapi sayang tidak ada buktinya!). Lain halnya dengan bahasa rupa yang artefaktual, saat itu ternyata mereka telah memiliki bahasa rupa dengan kekayaan tata rupanya yang khas.
Bukti-bukti temuan (artefak) dari peninggalan peradaban manusia-manusia masa prasejarah, yang berupa gambar atau lukisan di dinding-dinding dan langit-langit gua batu dan atau curug-curug batu karang, dikatakan oleh para ahli sebagai ‘buku pintar’ dari masa itu, merupakan pedoman dan dipedomani manusia prasejarah selama beribu tahun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebagian ahli seni rupa membatasi bahasa rupa, menjadi estetik, simbolik, dan story telling atau bercerita. Primadi Tabrani membatasi bahasa rupa ini hanya untuk aspek bercerita, karena menurutnya pada aspek estetis dan simbolis tidak spesifik disebut sebagai bahasa rupa estetis maupun bahasa rupa simbolis, tetapi kaidah estetis dan makna simbolis, bahkan dalam penelitiannya tentang bahasa rupa ini Primadi lebih mengkhususkan pada gambar (dua dimensional) yang deskriptif, bukan yang geometris, abstrak, ragam hias, isim, dan lain sebagainya.

Skema bahasa rupa (Prof. Primadi Tabrani, 1991
Demikian pula bila berdasarkan ungkap rupa atas artefak-artefak megalitik, dalam hal ini adalah patung (idol) yang terdapat di Dataran Tinggi Pasemah, merupakan representasi leluhur dan dipedomani sebagai sarana pemujaan kepada arwah leluhur, oleh generasi-generasi selanjutnya secara turun-temurun, artinya patung megalitik pun sebagai karya seni rupa yang mengandung pesan, jadi tidak harus berupa gambar yang bercerita atau strory telling, sebagaimana yang dimaksud sebagian ahli seni rupa sebagai bahasa rupa.
Untuk lebih dapat memahami karya rupa yang kasat mata, harus dikaji baik secara fisik maupun nonfisik, dan diungkapkan segala sesuatu yang melingkupi suatu karya seni rupa itu, baik perupaan, nilai estetis, makna simbolis, dan termasuk pula nilai-nilai magis–mistis sesuai kosmologi yang menyertainya.
Dari bahasa rupa dan atau ungkap rupa yang di dalamnya juga terdapat tata rupa, maka dapat diperkirakan bahwasanya perkembangan bahasa kata yang belum tertulis di masa prasejarah itu, tentulah tidak akan jauh berbeda dengan perkembangan bahasa rupanya, atau dengan kata lain bahasa rupa akan berjalan selaras dengan bahasa kata, kala itu.
Ungkap rupa patung megalitik di Dataran Tinggi Pasemah ini, merupakan upaya merevitalisasi kandungan potensi lokal yang ada, sehingga akan dapat menjadi sumber inspirasi dalam melakukan eksplorasi bagi para penggiat seni rupa khususnya, dan para kreator pada umumnya, yang juga diharapkan dapat melahirkan gagasan pun karya-karya yang inovatif dan kreatif, serta dapat bermanfaat bagi masyarakat kini dan jauh ke depan.
Ungkap Rupa Patung Megalitik di Pasemah
MEMPERHATIKAN situs-situs di dataran tinggi Pasemah, terbukti bahwa artefak-artefak megalitik jenis patung memang memiliki jumlah terbanyak, dibandingkan dengan artefak megalitik lainnya. Dari situs megalitik yang ada, sesuai wujud perupaannya patung megalitik tersebut dapat dibedakan menjadi dua kategori. Kategori dimaksud adalah berdasarkan perwujudan atau perupaan tokoh yang mereprentasikan leluhur mereka, yaitu pertama, patung megalitik Pasemah yang menggambarkan satu wujud rupa atau sosok tunggal, dapat berupa seorang tokoh manusia atau seekor binatang saja; kedua, patung megalitik Pasemah yang menggambarkan lebih dari satu wujud rupa atau sosok jamak, dapat berupa manusia dengan manusia atau manusia dengan binatang.
Patung Megalitik Berwujud Rupa Tunggal di Pasemah
Ada beberapa situs yang memiliki patung megalitik berwujud rupa atau sosok tunggal, baik itu berupa manusia maupun binatang, contohnya:

Patung megalitik berwujud rupa tunggal di Pasemah
Berdasarkan kedua patung yang berobjek tunggal tersebut di atas, jelas bahwa para pematung Pasemah di kala itu memang merupakan pematung-pematung batu yang mumpuni, handal secara teknis, dan berkualitas. Patung Orang membawa nekara di Belumai, termasuk salah satu dari artefak patung megalitik Pasemah yang kondisinya masih lengkap. Patung di Belumai ini secara teknis juga tergolong sempurna, karena dilihat dari unsur-unsur perupaannya seperti garis, volume, tekstur, shape, dan bentuk pada patung ini berhasil diolah secara harmonis-estetis.
Memperhatikan proporsi kepala patung yang cenderung dibesarkan, tampak sebagai center atau pusat perhatian dari patung ini. Dengan pengolahan bentuk mata, hidung, bibir/mulut, rahang, sejenis penutup kepala, nekara, dan benda berbentuk lingkaran yang didukungnya, serta sikap tubuh dari si tokoh yang dipahatkan sedemikian rupa, telah berhasil menyelaraskan bentuk patung Orang membawa nekara ini secara keseluruhan, sehingga estetis dan tampilannya unity.
Pada patung Kerbau yang dipahatkan terbaring di situs Geramat, secara kebentukan terlihat bahwa pematungnya telah berhasil memvisualkan rasa bentuknya secara realis-naturalis. Patung Kerbau yang sekarang sudah tanpa kepala ini, tampaknya adalah seekor kerbau yang sehat dan gemuk. Dengan posisi keterbaringan badan kerbau yang berada di depan sebelah kiri, tidak jauh dari sebuah patung lainnya yang berupa Orang Menunggang Kerbau, secara langsung telah berhasil mengingatkan kita kepada prosesi upacara sesembahan atau ritual pengorbanan.
Patung megalitik Pasemah yang berwujud rupa tunggal tersebut di atas baik untuk sosok manusia maupun sosok hewan, yang berdasarkan perupaannya tampak cenderung realistik dengan memvisualkan seluruh bagian tubuhnya (anggota badan), kecuali untuk patung kerbau yang bagian kepalanya memang sudah patah (hilang). Ukuran kedua patung ini dapat dikatakan volumenya relatif berukuran lebih kecil, bila dibandingkan dengan ukuran patung-patung megalitik yang tersebar di kawasan Bumi Pasemah pada umumnya.

Tabel Ungkap rupa patung berwujud rupa tunggal di Belumai
Patung Megalitik Berwujud Rupa Jamak di Pasemah
DARI semua situs prasejarah di Pasemah yang memiliki artefak patung megalitik, banyak dijumpai patung megalitik yang memvisualkan wujud rupa jamak, baik itu manusia dengan manusia maupun manusia dengan binatang. Ada satu patung yang memperlihatkan ciri genitalnya, yaitu Ibu dengan anaknya di Tinggi Hari.
Patung megalitik di Pasemah berbeda dengan patung megalitik di daearah lain, hal ini selaras dengan Haris Sukendar sebagai salah seorang pakar arca megalitik Indonesia. Melalui kaji banding artefaktual patung megalitik, diketahui bahwa tidak ditemukan patung-patung megalitik prasejarah seperti yang terdapat di bumi Pasemah, hal ini yang diakui oleh Haris Sukendar.

Patung megalitik berwujud rupa jamak di Pasemah
Di wilayah lain di banyak tempat, patung megalitiknya masih tergolong “arca menhir” atau sering disebut totem, dimana dalam hal perupaannya masih bersifat statis-prontal dan sederhana (cenderung lebih mengutamakan kepala) biasanya disebut “totem”, yang belum selengkap seperti perupaan sosok tokoh pada patung megalitik di Pasemah.

Tabel Ungkap rupa patung berwujud rupa jamak di Tinggi Hari
Lukisan di Dinding Rumah Batu
Pada rumah (kubur) batu Tanjung Aro, yang masih tersisa dari lukisan-lukisan prasejarah itu kini hanyalah berupa bercak-bercak warna-warna hitam dan merah. Juga ada beberapa dari lukisan itu yang sudah dikotori oleh ulah-ulah nakal para vandalis. Berdasarkan data baik yang ada di Balai Arkeologi Palembang maupun Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta, memang dikatakan bahwa sekarang kondisi lukisan-lukisan dinding kubur batu di Pasemah tersebut sudah banyak yang aus. Namun masih beruntung, penyelamatan data-data yang berupa dokumentasi foto lukisan-lukisan tersebut, sudah tersimpan di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta.
Lukisan-lukisan itu menggunakan warna-warna seperti merah, kuning, putih, dan hitam (dari bahan pewarna alami). Juga dapat dikatakan bahwa perupaan tokoh orang yang dilukiskan relatif sama dengan perupaan tokoh orang yang dipatungkan. Objek lukisan tersebut tampak menggambarkan manusia dengan tipe austronesoid, burung hantu/harimau, kerbau, nekara, belati, serta garis berupa sulur-sulur dan lingkaran yang simbolik.
Menilik dari teknik dan perupaan objek lukisan-lukisan Pasemah itu, tampaknya perlu digugurkan konvensi selama ini yang mengatakan seni lukis Indonesia adalah ‘dekoratif’, karena bukti dari beberapa lukisan Pasemah secara tegas membantah itu, di Pasemah ada juga yang ekspresif. Perupaan objek lukisan-lukisan itu menunjukkan keselarasan dengan bentuk-bentuk pada patung megalitiknya yang tiga dimensional, artinya dapat ditarik kesimpulan bahwa keberadaan baik karya rupa dua dimensi maupun karya rupa tiga dimensi di Dataran Tinggi Pasemah, merupakan satu masa atau sezaman.

Beberapa lukisan/gambar
di dinding kubur (rumah) batu situs Tanjung Aro dan Kotaraya Lembak
(Sumber: Puslit Arkenas, Jakarta)
Batu dan Dinding Batu Bergambar Gores
SATU jenis lagi artefak megalitik Pasemah yang kaya ragamnya itu adalah artefak megalit yang berwujud batu bergambar dengan teknik gores atau toreh (batu bergores), dan dinding batu bergambar dengan teknik gores (dinding batu bergores). Artefak megalitik jenis ini ditemukan di beberapa lokasi situs megalitik Pasemah. Di situs`Tebat Sibentur, Kabupaten Lahat, ditemukan dua bongkah pecahan batu yang memiliki gambar gores.

Dua Bongkah Pecahan
Batu bergores di Tebat Sibentur dan gambar rekonstruksinya
Artefak megalitik yang berupa dinding batu bergores hanya ditemukan dan ada di situs Bukit Selayar, Kota Pagaralam. Artefak ini berupa sebuah dinding batu karang yang cukup luas dan vertikal, di permukaan dinding batu karang itulah gambar gores tersebut berada.

Gambar (kiri) Kegiatan pengukuran dinding batu bergores di Bukit Selayar
(Sumber: Dokumentasi Foto Balai Arkeologi Palembang), (kanan) penulis saat di lokasi

Gambar Dinding batu bergores di Bukit Selayar – Pasemah
(Sumber: Dokumentasi Foto Puslit Arkenas Jakarta)
Ragam Hias
PERWUJUDAN ragam hias pada saat tradisi megalitik Pasemah masih berlangsung kala itu, tampaknya sangat kental dengan fungsi dan makna simbolis-mistisnya. Namun, dari pola penempatannya pada masing-masing artefak terlihat juga, adanya semangat untuk menghias, misalnya seperti yang dijumpai pada menhir ‘Batu Aji’ di dusun Karang Dalam, Kabupaten Lahat, juga pada patung-patung megalitik Pasemah umumnya. Terutama jenis ragam hias purba, seperti tumpal, lingkaran, dan meander.

Gambar Batu bergores berupa menhir
di Karang Dalam dan motif hias ‘Tumpal’

Rekonstruksi simbol/ragam hias
yang ada pada patung-patung Pasemah
(Sumber: Dokumentasi Foto Puslit Arkenas Jakarta)
Ciri Khas Seni Rupa Pasemah
PERWUJUDAN bentuk atau perupaan patung megalitik di bumi Pasemah memiliki ciri khas, yakni besifat dinamis-piktorial dan cenderung realistik, baik untuk sosok orang yang menggambarkan tipe ras austromelanesoid maupun binatang. Patung megalitik Pasemah merepresentasikan arwah nenek moyang, selalu dalam sikap tubuh cenderung condong ke depan, dengan kepala atau wajah juga cenderung menengadah. Visualisasi demikian itu sebagai upaya guna memberikan gambaran kewibawaan dan keagungan kepada sang tokoh (nenek moyang) yang dijadikan pujaan.
Patung megalitik Pasemah dibuat karena merupakan salah satu media penting dalam pelaksanaan upacara dan ritual untuk pemujaan arwah nenek moyang, serta merupakan kebutuhan pokok religius masyarakat prasejarah yang bersifat mistis. Namun dengan perupaan yang beragam dari setiap patung, mengindikasikan ada dan diakuinya peran ekspresi pribadi si seniman pematungnya kala itu.

Gambar Satu tata penempatan artefak di salah satu situs di Pasemah
Patung megalitik Pasemah cenderung selalu bersama atau berdekatan dengan artefak megalitik lain, seperti lumpang batu, batu datar, dsb, maka patung megalitik Pasemah juga termasuk menhir atau batu tegak lainnya yang bersifat vertikal, merupakan perlambangan dari atau sebagai unsur laki-laki. Lumpang batu, dolmen, balok batu, dan batu datar yang bersifat horizontal adalah melambangkan unsur perempuan. Konsep laki-laki dan perempuan tersebut merupakan simbolik dari kesuburan, sesuai konsep berpikir dalam budaya mistis, kemudian pada masa tradisi lebih lanjut (zaman Klasik Hindu) disebut atau dikenal dengan istilah “lingga–yoni”.
Patung-patung megalitik di Pasemah tidak mengenal adanya pengulangan bentuk yang persis sama, artinya pada masing-masing patung visual atau perupaannya selalu berbeda, baik untuk sosok manusia juga binatang. Sedangkan kesamaan yang ada terutama terletak pada bahan atau medianya berupa jenis batuan andesit, dan beberapa kecenderungan kesamaan lainnya, seperti tema, gaya perupaan, tidak berdiri tegak, wajah cenderung menengadah, bergelang kaki dan gelang tangan dari lempengan logam, bersama gajah, kerbau, ular, dan atau yang lainnya. Masing-masing patung yang berbeda namun sekaligus memiliki beberapa kesamaan ini dikenal dan disebut juga sebagai patung yang bersifat “tunggal jamak” atau “jamak–tunggal” (bhinneka tunggal ika = keberagaman rupa yang satu konsep), inipun menjadi salah satu dari ciri khas patung megalitik Pasemah.
Kecenderungan kaki dari sosok tokoh orang yang dipatungkan pada patung-patung megalitik di Pasemah juga selalu dengan sikap ditekuk, dan atau dilipat. Di Pasemah tidak ditemukan patung megalitik yang dengan sikap kaki terbentang lurus atau berdiri tegak. Beberapa patung megalitik Pasemah ada yang sikapnya dalam posisi duduk bersimpuh di atas kedua kaki, dan ada pula patung yang duduk dengan lutut berdiri sejajar dada.
Para pematung Pasemah pada masa itu adalah “seniman” yang memiliki rasa atau kepekaan bentuk (form) sangat baik, hal ini terlihat dari perupaan pada karya-karya patung yang mereka buat dan ditemukan di Dataran Tinggi Pasemah. Di lapangan kondisi patung-patung tersebut sudah banyak mengalami pelapukan dimakan usia, namun dari perupaan terutama keadaan permukaan (tekstur) yang tersisa, masih dapat dirasakan bagaimana keadaan kulit terutama pada sosok beberapa binatang seperti yang dipatungkan di Pasemah.
Masyarakat prasejarah Pasemah di masa itu adalah masyarakat pendukung budaya atau tradisi megalitik. Sebagaimana halnya dalam suatu budaya megalitik, maka masyarakat prasejarah di bumi Pasemah memiliki keyakinan atau kepercayaan terhadap arwah nenek moyangnya. Menurut kepercayaan ini bahwa arwah nenek moyang tersebut bersemayam di tempat-tempat suci atau “dunia atas”, yaitu di puncak-puncak gunung dan atau bukit-bukit yang tinggi.
Patung megalitik di Pasemah umumnya selalu diarah hadapkan ke bukit atau gunung yang ada. Untuk situs Tanjung Sirih dan komplek situs Tinggi Hari, bahkan letaknya memang sudah berada di puncak bukit. Arah hadap patung megalitik Pasemah dan kedua situs tersebut yang berada di puncak bukit, membuktikan adanya hubungan erat dengan kepercayaan mistis masyarakat pendukungnya, bahwa arwah nenek moyang mereka memang bersemayam di puncak bukit atau gunung.
Patung megalitik Pasemah adalah patung megalitik khas Indonesia, karena tidak ditemukan patung-patung megalitik lainnya yang sezaman dan sejenis (dead monuments) dengan patung megalitik di Pasemah, yang bersifat dinamis piktorial dan cenderung realistik, dengan perupaan sosok (kepala, badan, kaki dan tangan) secara lengkap. Patung megalitik Pasemah merupakan karya patung megalitik khususnya media batu yang terbaik di zamannya, karena telah menggunakan teknologi berupa mata pahat yang terbuat dari logam, sehingga para pembuatnya dapat menerapkan konsep berkarya dengan dukungan kemampuan teknis mematungnya yang maksimal.
Tradisi megalitik di bumi Pasemah secara keseluruhan merepresentasikan budaya dari suatu masyarakat yang bersifat agraris dengan pola ladang, hal ini tercermin terutama dari keberadaan artefak-artefak megalitik berupa lumpang batu, serta tampilnya patung dengan sosok objek manusia dan atau binatang di beberapa situs megalitik Pasemah. Lumpang batu dengan lubangnya yang bervarian satu, dua, dan empat tentu secara fungsional mengindikasikan adanya ragam jenis biji-bijian hasil ladang atau perkebunan, yang harus ditumbuk untuk sarana dalam ritual tertentu dengan masing-masing lubang berbeda.
Perupaan atribut yang selalu ikut dipahatkan pada patung-patung megalitik di Pasemah, khususnya pada patung yang objek utamanya manusia. Atribut baju yang tampak membungkus ketat tubuh si tokoh, dengan dilengkapi sebilah belati besar atau pedang, tentu dapat dimaknai bahwa tokoh itu adalah seorang prajurit atau panglima perang yang berjiwa kesatria. Atribut kalung yang berbentuk unik, tentu untuk menggambarkan bahwa si tokoh bukanlah orang biasa. Begitu pula dengan atribut gelang khususnya untuk gelang kaki, yang memiliki jumlah bilangan bervariasi dari satu hingga sembilan (patung “Imam” bergelang kaki sembilan). Varian gelang kaki ini tampaknya ingin menandai bahwa si tokoh adalah penguasa dari satu, empat, lima, tujuh, atau sembilan aliran sungai. Sungai dimaksud tentunya adalah sungai yang berada di wilayah teritorial Batang Hari Sembilan, meliputi daerah-daerah di Sumatra bagian Selatan yakni: Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung dengan sembilan buah sungainya.
Karya seni rupa prasejarah di Dataran Tinggi Pasemah telah menunjukkan keragaman jenis karya rupa, seperti patung, lukisan atau gambar, ragam hias, batu atau dinding batu bergores, semuanya dapat dikatakan menjadi indikasi cikal-bakal atau masa awal beragamnya jenis karya seni rupa Nusantara, yang kemudian berproses dalam rentang masanya yang panjang hingga sampai kepada seni rupa Indonesia masa kini.
IMPIAN MUSEUM ALAM TERBUKA MEGALITIK PASEMAH &
TAMAN MINI MEGALITIK PASEMAH
Banyak penelitian, hanya memberikan hasil atau manfaat bagi para peneliti atau lembaga di seputarnya, misal: hanya sebagai objek penelitian, proyek penelitian dan pendokumentasian, menjadi karya tulis (buku), dimuat/diberitakan ke media cetak/elektronik, dan sebagainya. Sementara, masyarakat di seputar situs atau di wilayah penelitian dimaksud, cenderung hanya seolah “pelayan” bagi kelancaran berlangsungnya suatu penelitian, bila proyek penelitian itu berakhir, masyarakat pun gigit jari.
Karenanyalah, juga termasuk kegiatan-kegiatan seperti seminar yang sedang kita ikuti bersama kali ini, hendaknya jangan lagi hanya terhenti pada kesimpulan-kesimpulan tertulis atau jargon-jargon idealis-romantis belaka, tetapi yang penting sekarang adalah bagaimana pengimplementasiannya, yang dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya, baik kini pun jauh ke depan terutama bagi negara bangsa tercinta ini. Kalau tidak, jangan salahkan seperti masyarakat di Tengger, masyarakat Badui, yang kini cenderung “jengah” kepada aktivitas penelitian termasuk kewisataan.
Museum alam terbuka dimaksud, merupakan upaya pelestarian secara konperhensif, dengan tetap menjaga dan mempertahankan keaslian dan kesrian lingkungan situs pun artefaktual kandungannya, dan Taman miniatur dimaksudkan lebih kepada adanya: Pusat data, pusat kajian, pusat informasi dan pengembangan, dan pusat kepariwisataan secara menyeluruh.

Site Plan Taman Miniatur Megalitik Pasemah di dalam Kawasam Museum Alam Terbuka Megalitik Pasemah
Dengan museum dan taman miniatur di dalamnya ini dimaksudkan mencoba untuk menjadikan hasil penelitian, juga dapat memberikan manfaat yang bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat di sekitar lokasi penelitian pun masyarakat pada umumnya. Museum dengan taman miniaturnya itu adalah satu kesatuan konsep sebagai upaya penggalian, pendataan, pendokumentasian, pengkajian, pelestarian, pusat informasi dan pengembangan aset budaya tersebut, dengan prinsif tetap menjaga keseimbangan alam lingkungan sekitar, dan tidak merusakbiaskan situs pun artefaktualnya atas alasan apapun...!
SEMOGA...Erwan Suryanegara