Seni Rupa

Pemanggungan dan Pergelaran dalam Konteks Seni Rupa Masa Kini

oleh Alia Swastika pada 9 November 2012 pukul 2:17 ·

Peristiwa seni terpenting dalam sejarah seni rupa kontemporer, pameran lima tahunan Documenta, baru selesai ditutup pada 17 September yang lalu. Selama seratus hari, perhatian seluruh pelaku seni dunia tertuju ke sebuah kota kecil bernama Kassel, di Jerman, 1 jam kereta dari Frankfurt. Dan untuk penyelenggaraan yang ketigabelas kali ini, rasanya seluruh upaya warga dari berbagai negara untuk sampai ke sana tidaklah sia-sia: sebuah suguhan pameran yang mengesankan, hampir sulit dilupakan.

Pameran ini dikuratori oleh Carolyn Christof Bakergiev dengan melibatkan 11 orang agen kurator yang membantunya dalam riset dan pemilihan seniman. Keseluruhan, ada kurang lebih 190 seniman terbaik dari berbagai penjuru dunia memamerkan karyanya, dengan persilangan dari berbagai latar belakang baik perupa, sutradara film, koreografer, kelompok teater, pemusik, arsitek, dan sebagainya. Dan seluruh keragaman ini sungguh-sungguh menunjukkan bagaimana seni rupa kita hari ini, dan hari-hari mendatang, terasa kaya akan ekspresi dan imajinasi. Batas-batas seni makin ditebas, termasuk pertanyaan, "apa itu seni?" benar-benar sudah dilewati, sehingga seni menjelma sebagai sesuatu yang nyata dialami, dan, pada akhirnya, didefinisikan sendiri.

Salah satu aspek yang menarik dari pameran ini adalah kekuatan dari karya-karya yang berbasis pada performance art atau bahkan memang berangkat dari seni pertunjukan. Tentu saja, persilangan seperti ini bukan barang baru dalam seni (kontemporer), dan bahkan sekarang menjadi salah satu kategori yang sudah mapan, tetapi, lebih jauh lagi, di d0CUMENTA 13 ini, bahkan elemen-elemen mendasar pada seni performans dan pertunjukan itu ditabrak semaunya, menuntut kita mempertanyakan batasan-batasan, termasuk relevansi dari seluruh elemen itu di masa kini. Lebih daripada pemanis dan varian seni, banyak seni berbasis pertunjukan ini mampu menggunggah dan mengganggu pikiran kita.

Suatu kali, di hari ketiga berada di Kassel, dalam bau tanah yang pekat selepas hujan lebat, saya tiba di bangunan tua yang tampak lama tak dihuni. Di halaman belakang, tanah masih terasa basah, dan daun-daun yang berguguran mulai ditiup angin. Seorang petugas mempersilakan saya memasuki sebuah lorong di sudut tanah terbuka itu. Saya berjalan pelan hingga tiba di sebuah pintu ruangan, yang dari luar tampak bahwa di dalam terasa demikian gelap. Melangkah masuk, saya benar-benar tak bisa melihat apa-apa. Kegelapan yang absolut. Pertama-tama, hinggap ketakutan di dalam diri saya karena saya merasa tak aman, tak bisa mempertahankan diri di tempat yang asing. Belum selesai menyesuaikan diri dengan gelap, tiba-tiba di belakang saya, seseorang menyanyi dalam jarak sangat dekat. Saya masih tak bisa melihatnya. Saking dekatnya, lelaki itu seperti mendesis di telinga saya. Ia menyanyi dalam irama hip hop, dan saya merasakan tubuhnya berdansa dengan irama yang cukup cepat. Lalu seseorang yang lain melintas di depan saya, berjalan dengan cepat. Pada saat yang sama, seperti di sudut ruang, dua orang bercakap dengan sangat keras. Mereka berdiskusi soal-soal filosofis yang mendasar dari masyarakat kontemporer. Keduanya nyaris seperti saling berteriak. Teks yang mereka sampaikan juga, seingat saya, sangat kuat dan menarik. Tetapi tak bisa saya dengar sepenuhnya karena banyaknya stimulasi yang terjadi bersamaan, dalam situasi yang serba cepat dan tanpa arah. Saya bertahan dalam ruangan itu hingga hampir 10 menit, terus menerus gelap, dengan pergantian 'adegan' yang tak terlihat tetapi semua terasa dekat dan ada di sekitar tubuh saya. Entah mengapa, ketika saya merasakan interaksi tubuh saya dengan para penampil itu, pada saat yang sama saya seperti bisa menghayati tubub saya sendiri, merasakan "kedirian" saya. Suatu perasaan yang seperti asing, tapi juga magis.

Performans itu merupakan karya Tino Sehgal, seniman yang tinggal di Jerman. Hingga sekarang saya tak tahu apa judulnya, karena tidak ada penjelasan tentang Sehgal dalam katalog atau buku panduan. Sehgal dikenal sebagai seniman yang tak pernah membuat dokumentasi karyanya, menyerahkan seluruh pengalaman yang tercipta pada kekuatan memori. Bagi saya, karya Tino Sehgal merupakan salah satu karya yang terkuat dalam dOCUMENTA. Ia menghilangkan ketinampilan aktor, sehingga yang tertinggal adalah gerakan dan suara (bukan kemunculan fisik yang terlihat). Juga tak ada panggung dan semua piranti pemanggungan. Seluruh ruang adalah sebuah platform untuk sesama manusia saling berhubungan, dengan cara yang tidak biasa. Ia seperti menegasi semua gagasan tentang panggung, aktor, naskah, dramaturgi, dan membiarkan kita sebagai "penonton" berada dalam situasi mengalami diri sendiri melalui stimulasi dari luar.

Dalam gedung yang sama, di bagian depan, kelompok Theaster Gates (Amerika Serikat) menyulap gedung tua yang telah diabaikan selama lebih dari 40 tahun, menjadi sebuah situs kreatif yang menarik. Memasuki ruangan ini, pengunjung seperti diundang masuk ke dalam labirin keganjilan, sebuah persekutuan antara yang seni dan yang sehari-hari, yang ordinary dan extra ordinary, sejarah dan masa kini, penampakan dan yang tersembunyi. Di beberapa ruangan, mereka menciptakan semacam panggung kecil dimana semua pengunjung bisa memainkan alat musik yang ada, atau membaca puisi dan buku-buku yang tergeletak di sana. Meskipun mengolah ruang-ruang yang terasa tua, tetapi tidak berarti mereka harus "merenovasi" menjadi baru, atau menghilangkan apa yang rusak. Sebagian ruang dipertahankan sebagaimana mereka menemukan ruang itu, atap yang berlubah atau lapisan kertas dinding yang terkelupas. Beberapa tempat diubah menjadi ruang makan, ruang duduk, dan kamar-kamar. Pengunjung dibebaskan untuk melakukan apa saja yang mereka mau, merespons seluruh situasi keseharian yang diciptakan oleh seniman. Yang menarik, para seniman ini (yang terdiri dari berbagai disiplin; musisi, pemain teater, pembuat film, perupa, koreografer, dan sebagainya), juga mengajak anak-anak muda kelas pekerja di Kassel untuk terlibat aktif dalam merekonstruksi kembali gedung tua ini.

Gedung itu sendiri merupakan salah satu bangunan legendaris yang rusak ketika serangan bom masa perang dunia berlangsung. Selain mengintervensi ruang ini sebagai sebentuk ruang pamer, Theaster Gates juga tertarik pada upaya untuk menggugah memori kolektif tentang akibat perang bagi peradaban, tanpa langsung masuk ke dalam isu-isu tentang perang itu sendiri. Dengan cara yang partisipatif, mengajak audiens menghidupkan kembali situs yang penuh ingatan atas perang, para seniman menyodorkan kenyataan pahit tentang masa lalu Jerman dan kemanusiaan pada umumnya.

Setelah berjalan beberapa lama, kami memutuskan untuk mencari tempat minum kopi. Sayangnya, di hari Minggu hampir semua tempat minum kopi tutup. Kami melihat antrian panjang di depan sebuah kafe, yang kami tahu ternyata kafenya sudah tak lagi berfungsi. Di situlah Kino, tempat saya punya janji dengan Jerome Bel, koreografer Perancis favorit saya, yang karyanya selalu cerdas, tapi juga nakal. Tak disangka, pada hari itu Bel justru menggelar pertunjukannya.

Saya duduk bersama penonton lainnya di gedung Kino yang nyaris tua. Saya baru mempelajari bahwa judul pertunjukan ini adalah "Disabled Theater". Ketika pertunjukan dimulai, lampu panggung mulai dinyalakan, tak ada apa-apa di atas panggung. Seorang narator, dari balik panggung menyampaikan sambutan selamat datang, dan bercerita tentang lokakarya yang telah diselenggarakan Bel bersama orang-orang cacat beberapa waktu sebelum dOCUMENTA dibuka. Kemudian, salah satu peserta workshop maju, dan mereka membuat gerakan diam, hanya bermain ekspresi, selama satu menit. Ia seorang perempuan tiga puluhan yang menderita down syndrome, hanya tersenyum dan menatap langsung ke arah penonton dari atas panggung. Kemudian, ia mundur ke belakang, berganti tempat dengan orang lain, seorang lelaki yang tampak lebih tambun, tapi wajahnya terlihat lebih riang. Ia juga menampilkan ekspresi aneh di panggung. Ada sebelas orang dari workshop itu, sehingga periode itu menjelma menjadi sebelas menit paling aneh dalam hidup saya. Ada campuran perasaan antara sedih, merasa bersalah, tidak nyaman, tetapi juga penasaran.

Setelah itu, mereka kembali maju satu per satu, menceritakan sedikit tentang mereka dan sakit yang mereka derita. Sebagian dari mereka menderita down syndrome, ada pula yang nervous breakdown, atau neurosis. Perasaan saya jadi semakin aneh. Apa yang diinginkan seniman dengan mengekspose semua ini? Apakah ia ingin membangkitkan perasaan kasihan dari audiens? Setelah itu, beberapa orang  diminta menari satu per satu. Kecamuk perasaan saya semakin menjadi-jadi, karena sesekali, tak bisa dihindari, apa yang terlihat di panggung mengundang gelak tawa. Saya mencoba mengidentifikasi: apakah ini gelak yang sama ketika saya menonton badut pda pertunjukan sirkus? Tetapi saya lihat wajah mereka demikian bahagia. Beberapa dari mereka bahkan berusaha memancing lebih banyak tawa dan tepuk tangan. Mereka lalu membaca teks yang berisi apa yang mereka pikirkan tentang projek ini, beberapa menyatakan hal yang sangat menyentuh, beberapa merasa marah, dan beberapa menyampaikan pesan yang sangat mengena. Pertunjukan itu sendiri berlangsung hampir satu setengah jam, dengan dinamika waktu yang terasa sangat berbeda. Kadang waktu dibekukan, kadang berlangsung sangat cepat.

Jerome dan para peserta workshop melakukan pertunjukan keliling di beberapa tempat di wilayah Kassel selama berlangsungnya dOCUMENTA. Sebagian besar

Keluar dari gedung pertunjukan, rasa yang aneh masih mengendap dalam diri saya. Saya berusaha memahami maksud dari pertunjukan Jerome dalam berbagai konteks, terutama melampaui estetika tari dan pertunjukan itu sendiri, dan memahami bagaimana Jerome berfokus pada gagasan lebih besar dari apa yang ditampilkan di atas panggung. Tentu saja, bagi Jerome, yang dipermasalahkan atau menjadi tujuan bukan lagi menarik empati kita pada penderita cacat, tetapi justru bagaimana kita melihat seni mengambil peranan, atau membicarakan, isu-isu yang berkaitan dengan relasi seni dan komunitas. Selama ini seni(man) sering menggunakan terma bekerja dengan komunitas, masuk dan mengintervensi kehidupan sekelompok orang, dan memancing perdebatan mengenai bagaimana isu dan relasi komunitas ini dimunculkan dalam karya. Menusuk lebih dalam, selalu ada perbincangan mengenai bagaimana seniman melakukan intervensi, ketimbang kolaborasi, dalam projek-projek yang disebut sebagai projek komunitas. Kelompok penderita cacat, yang menjadi mitra kolaborasi Jerome Bel, pada satu sisi terlihat sangat menikmati pertunjukan itu, menunjukkan peran aktif yang tanpa beban kepada penonton. Sementara, di sisi lain, sebagai penonton kita dihadapkan pada situasi yang terasa tidak enak ketika tertawa terbahak-bahak.

Ketiga contoh pertunjukan yang saya tampilkan di atas menampakkan bagaimana bahwa seni kontemporer ini tidak saja saling bertindihan, pada saat yang sama, ada kecenderungan untuk melepas kategori-kategori yang rigid pada masing-masing disiplin seni. Seni Kontemporer sekarang bertumpu pada gagasan, sehingga ia bisa dimanifestasikan dalam berbagai bentuk yang tak lagi bisa dikenali disiplin-disiplin aslinya, jika memang ada apa yang disebut sebagai aseli. Pada saat yang sama, dihadirkan dalam konteks pameran seni rupa, karya berbasis pertunjukan ini sendiri pada akhirnya juga punya semangat eksperimentasi yang kuat untuk menabrak batasan dalam seni pertunjukan itu sendiri, menawarkan konteks dan cara melihat yang berbeda dengan peristiwa-peristiwa seni pertunjukan. Kehadiran karya-karya berbasis pertunjukan pada dOCUMENTA 13, dengan kekuatannya yang mengandalkan pada peristiwa dan bagaimana pengunjung menghayati keberadaan fisiknya di sana, makin menegaskan kecenderungan seni kontemporer yang jauh sudah melewati gagasan karya seni sebagai objek semata. Selain karya-karya yang berbasis pada riset, kecenderungan terus mempertanyakan sejarah dan kemapanan dalam sistem seni, serta perspektif seni yang telah dituliskan turun temurun, karya-karya seni seperti ini juga selalu memancing rasa terganggu, juga perasaan yang tak terjelaskan, yang sesungguhnya merupakan manifestasi dari penghayatan atas situasi meng-ada. Seni kontemporer hari ini memang merujuk pada "apa saja bisa jadi seni", tetapi dOCUMENTA 13 menunjukkan bahwa yang "apa saja" itu acap kali tersembunyi dan tak terlihat, atau menjadi bagian yang diterima sedemikian adanya. Seniman-seniman kontemporer terobsesi untuk terus menerus mempertanyakan apa yang tak tampak ini, menjadikannya satu cara berkontribusi pada cara kita memandang dunia. Dengan keinginan semacam ini, panggung, yang biasanya menjadi ruang untuk menampilkan "diri" dari para seniman dan aktor, diperluas konteksnya menjadi dunia, tempat siapa saja bisa punya suara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar