CAHAYA DIATAS CAHAYA
oleh Filuz Mursalin pada 3 Maret 2012 pukul 21:23 ·
BENING DAN HENING
Sejak pukul 17.00 kemarin, Telepon genggam bututku pemberian Robbi Lamor, dan nomor cantik pemberian David Suhak, aku Off-kan. Usai ibu angkatku {bukan basa-basi sebatas bibir saja} Ken Zuraida istri Pujangga Indonesia WS Rendra {yang banyak membimbingku penuh kasih-sayang, dan perhatian bagai ibuku, mengajariku untuk menjadi musisi sejati, sejak tahun 1981}. Ibu angkatku menanyakan kepastian tanggal 3 Maret 2012, apakah berkunjung ke Palembang lagi ? Beliau mau menggelar pementasan Teater di Graha Budaya Jakabaring Palembang, selama seminggu, mengusung naskah karya suaminya "MASTODON DAN BURUNG KONDOR", berdurasi 3 jam.
Aku sukar sekali untuk menjawabanya, lalu dalam gelisah Telpon genggam burtutku aku Off-kan. Aku memilih menggunakan Telehati {bahasa hati} berkomunikasi dengan ibu angkatku, karena menurutku lebih bijaksana. Aku yakin ibu angkatku yang baik hati, dengan serta-merta akan memaafkan tindakan konyolku ini, dan memahami kebiasaanku yang sering konyol dalam bertindak {mengikuti hati nurani, seperti pesan beliau padaku, dalam bekerja harus selalu menggunakan hati nurani}.
Namun agenda ibu angkatku ini telah terpatri dalam hati, suatu ketika bila sudah jodohnya akan terwujud, hanya persoalan waktu saja. Memang dalam berkesenian dibutuhkan kesabaran mendalam, tidak bisa instan. Seperti saat ini, aku lagi asyik memfokuskan diri, menggarap album Reliku {album Langit}, berjudul "CAHAYA DIATAS CAHAYA". Berisi 7
lagu, namanya juga album Langit, ya....disesuaikan dengan 7 lapis Langit. 3 lagu berjudul CAHAYA DIATAS CAHAYA, SEMUA ADA KESUDAHAN, KEMBALILAH SEGERA, sudah aku rekam di Jakarta. 1 lagu sudah Mastering, 2 lagu masih proses.
PERJALANAN PANJANG
Aku diberi anugerah oleh sang pemilik keindahan mengarang lagu, sejak duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar Xaverius 3 Sekojo Palembang. Lagu yang kukarang kala itu berjudul 'oh papa oh mama', hingga sekarang aku masih ingat lagunya, namun liriknya hanya ingat 20 %. Pertamakali yang mengajariku bermain Gitar Akustik {sejak kelas 5 SD,jika mengarang lagu aku menggunakan Gitar Akustik} Dudi dan Beben {teman karibku tatkala di bangku kelas 5 SD}, kakak kandung musisi ternama di Palembang, Hanani dan Yayak.
Sejak saat itu akupun mulai berkelana, mencari guru musik di kota MUSI ini. Aku belajar dengan Rizal Keyboardis FAMILY Band. Tulus Pangabean Gitaris LISTER Band, Nyoto Basis NOWING Band, dan seterusnya. Hingga aku menyebrangi Selat Sunda, belajar dengan Iwan Fals, Sawung Jabo, Franky Sahilatua, Donnya Fattah, dan sebulan yang lalu belajar dengan Dik Doank.
Selain belajar musik, aku juga belajar Tater dan Sastra. Atas rekomendasi temanku Jaid Saidi, aku bergabung dengan Teater KEMBARA yang dilatih Asriel Chaniago. Dari Teater KEMBARA-lah aku menjelmaw menjadi Rajawali, menjelajahi dunia kesenian, mencari guru untuk membimbingku. Akupun belajar dengan Edi Haryono {organisator BENGKEL TEATER, gfurunya OPICK penyanyi Tombo Ati, dan pendiri Teater anak-anak BELA STUDIO}, belajar dengan WS Rendra, Emha Ainun Najib, dan Fajar Suharno. Sekarangpun aku masih belajar dengan ibu angkatku Ken Zuraida istri WS Rendra, katena bagiku belajar tak mengenal ruang dan waktu, untuk DAYA HIDUP dan DAYA CIPTA.
MATEMATIKA
Entah sudah berapa lagu yang aku karang sejak kelas 5 SD, aku tak pernah menghitungnya, dan aku tak pernah menargetkan lagu karanganku meletus seperti gunung, di pasar tradisional musik Indonesia. Yang aku tahu hanya mengolah kretifitas, dan berkarya sepenuh hati, dan lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas, kualitas menurut takaran, dan neracaku.Dan sekarang aku tak akan pernah berkeinganan menjadi kaya-raya karena lagu karanganku,karena aku bukanlah ahli Matemetikas. Aku hanya ingin sederhana, dan biasa-biasa saja. Bila memang laguku meletus di bursa musik, ya...mudah-mudahan akan aku manfaatkannya untuk memfasilatasi musisi muda nan bertalenta, agar mendapatkan ruang dan kesempatan. Untuk mengekoresikan, serta mempublikasikan karya mereka.
ALBUM SEDERHANA
Album Relijiku {album Langit} terhenti sejenak, karena cerita daur ulang {belum memiliki biaya}, mengalir dan enjoi sajalah.....Sejak menekuni musik dari kelas 5 SD, aku tak pernah mengalami menjadi pekerja, menjadi pedagang, atau menjadi petani. Sementara ayahku hanya pegawai biasa. Jasi wajar saja bila aku merekam 3 laguku sebulan yang lalu di Jakarta, aku dipinjami uang oleh teman-teman selingkaran, dan keluarga dekat, sebanyak 7 juta Rupiah {maafkan aku bila hingga kini belum dapat melunasinya, masih menunggu rejeki dari Langitr}.
Manalah mungkin dengan uang 200 ribu di dompetku, aku merekam 3 lagu di Studio di Jakarta. Jangankan mau rekaman, Gitar Akustik saja baru 2 tahun ini aku punya sendiri {satu aku jual tatkala proses rekaman di Jakarta, satunya aku pinjamkan dengan Joni di Ciputat Jakarta, beliaulah yang menata musikku tatkala rekaman 3 lagu di Jakarta}.
Aku tak begitu berharap albumku ini meletus seperti album TOMBO ATI-nya sahabatku Aunur Rofiq Lil Firdaus atau OPICK. Sesuai amanah dan saran dari ibu angkatku Ken Zuraida, cukup memasarkan sendiri saja, dimulai dari lokal. Spasarkan di Pondok-pondok Pesantren, dan sekolah-sekolah. Menurut Joni penata musikku, hanya dengan biaya 30 juta saja, sudah bisa berjalan. Ya....mulai menggadakan seribu keping CD dulu, pelan-pelan saja.
Aku yakin suatu saat ketika, albumku ini akan bertemu jodohnya, seorang Produser impianku, yang tidak memikirkan Matematika, atau untung-rugi, seorang Produser Idealis.
Mungkin melewati hamba-hamba Allah, lewat OPICK, lewat Eddy Santana Putra, T. Wijaya, Conie Sema, Erwan Suryanegara, Syamsul Noor Al Sajidi, Dimas Agoes Pelaz, atau lewat uang sekarung, yang turun dari Langiit....hehehe 99x.....
Album CAHAYA DIATAS CAHAYA INI, sudah lama aku endapkan dan aku pertimbangkan. Terutama masalah prilakuku, apakah sudah selaras dengan lirik lagu-lagu dalam albumku ini. Namun ada sesuatu di hati nuraniku yang mendorong untuk merealisasikan album ini. Setidaknya untuk menasehati, dan mengingatkanku kepada Allah, bila aku sedang dalam keadaan lalai, terlena dengan kehidupan dunia fana ini. Juga untuk mendokumentasi karya-karyaku agar tidak tercecer.
Lagu CAHAYA DIATAS CAHAYA aransemennya memadukan musik Melayu, Latin, dan Funky. Begitupun untuk ke-enam lagu yang lain. Didalam album ini, aku akan mencoba mengangkat musik Slendro, Batanghari Sembilan, dan Melayu. Tentu saja diadon dengan musik-musik Modern kesukaanku, seperti Blues, Reggae, Balada.
Dalam menggarap album ini aku, jalani dengan enjoi dan kesabaran. Sembari mengurusi seratusan ayam kampung peliharaanku, di belakang rumah. Merawat bunga-bunga warisan Almarhumah ibuku, Suplir dan Kuping Gajah. Menanm kebutuhan dapur, Cabai, Jahe, Terong, Katu, dll. Agar tidak menjadi KONSUMTIF........
Sejak pukul 17.00 kemarin, Telepon genggam bututku pemberian Robbi Lamor, dan nomor cantik pemberian David Suhak, aku Off-kan. Usai ibu angkatku {bukan basa-basi sebatas bibir saja} Ken Zuraida istri Pujangga Indonesia WS Rendra {yang banyak membimbingku penuh kasih-sayang, dan perhatian bagai ibuku, mengajariku untuk menjadi musisi sejati, sejak tahun 1981}. Ibu angkatku menanyakan kepastian tanggal 3 Maret 2012, apakah berkunjung ke Palembang lagi ? Beliau mau menggelar pementasan Teater di Graha Budaya Jakabaring Palembang, selama seminggu, mengusung naskah karya suaminya "MASTODON DAN BURUNG KONDOR", berdurasi 3 jam.
Aku sukar sekali untuk menjawabanya, lalu dalam gelisah Telpon genggam burtutku aku Off-kan. Aku memilih menggunakan Telehati {bahasa hati} berkomunikasi dengan ibu angkatku, karena menurutku lebih bijaksana. Aku yakin ibu angkatku yang baik hati, dengan serta-merta akan memaafkan tindakan konyolku ini, dan memahami kebiasaanku yang sering konyol dalam bertindak {mengikuti hati nurani, seperti pesan beliau padaku, dalam bekerja harus selalu menggunakan hati nurani}.
Namun agenda ibu angkatku ini telah terpatri dalam hati, suatu ketika bila sudah jodohnya akan terwujud, hanya persoalan waktu saja. Memang dalam berkesenian dibutuhkan kesabaran mendalam, tidak bisa instan. Seperti saat ini, aku lagi asyik memfokuskan diri, menggarap album Reliku {album Langit}, berjudul "CAHAYA DIATAS CAHAYA". Berisi 7
lagu, namanya juga album Langit, ya....disesuaikan dengan 7 lapis Langit. 3 lagu berjudul CAHAYA DIATAS CAHAYA, SEMUA ADA KESUDAHAN, KEMBALILAH SEGERA, sudah aku rekam di Jakarta. 1 lagu sudah Mastering, 2 lagu masih proses.
PERJALANAN PANJANG
Aku diberi anugerah oleh sang pemilik keindahan mengarang lagu, sejak duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar Xaverius 3 Sekojo Palembang. Lagu yang kukarang kala itu berjudul 'oh papa oh mama', hingga sekarang aku masih ingat lagunya, namun liriknya hanya ingat 20 %. Pertamakali yang mengajariku bermain Gitar Akustik {sejak kelas 5 SD,jika mengarang lagu aku menggunakan Gitar Akustik} Dudi dan Beben {teman karibku tatkala di bangku kelas 5 SD}, kakak kandung musisi ternama di Palembang, Hanani dan Yayak.
Sejak saat itu akupun mulai berkelana, mencari guru musik di kota MUSI ini. Aku belajar dengan Rizal Keyboardis FAMILY Band. Tulus Pangabean Gitaris LISTER Band, Nyoto Basis NOWING Band, dan seterusnya. Hingga aku menyebrangi Selat Sunda, belajar dengan Iwan Fals, Sawung Jabo, Franky Sahilatua, Donnya Fattah, dan sebulan yang lalu belajar dengan Dik Doank.
Selain belajar musik, aku juga belajar Tater dan Sastra. Atas rekomendasi temanku Jaid Saidi, aku bergabung dengan Teater KEMBARA yang dilatih Asriel Chaniago. Dari Teater KEMBARA-lah aku menjelmaw menjadi Rajawali, menjelajahi dunia kesenian, mencari guru untuk membimbingku. Akupun belajar dengan Edi Haryono {organisator BENGKEL TEATER, gfurunya OPICK penyanyi Tombo Ati, dan pendiri Teater anak-anak BELA STUDIO}, belajar dengan WS Rendra, Emha Ainun Najib, dan Fajar Suharno. Sekarangpun aku masih belajar dengan ibu angkatku Ken Zuraida istri WS Rendra, katena bagiku belajar tak mengenal ruang dan waktu, untuk DAYA HIDUP dan DAYA CIPTA.
MATEMATIKA
Entah sudah berapa lagu yang aku karang sejak kelas 5 SD, aku tak pernah menghitungnya, dan aku tak pernah menargetkan lagu karanganku meletus seperti gunung, di pasar tradisional musik Indonesia. Yang aku tahu hanya mengolah kretifitas, dan berkarya sepenuh hati, dan lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas, kualitas menurut takaran, dan neracaku.Dan sekarang aku tak akan pernah berkeinganan menjadi kaya-raya karena lagu karanganku,karena aku bukanlah ahli Matemetikas. Aku hanya ingin sederhana, dan biasa-biasa saja. Bila memang laguku meletus di bursa musik, ya...mudah-mudahan akan aku manfaatkannya untuk memfasilatasi musisi muda nan bertalenta, agar mendapatkan ruang dan kesempatan. Untuk mengekoresikan, serta mempublikasikan karya mereka.
ALBUM SEDERHANA
Album Relijiku {album Langit} terhenti sejenak, karena cerita daur ulang {belum memiliki biaya}, mengalir dan enjoi sajalah.....Sejak menekuni musik dari kelas 5 SD, aku tak pernah mengalami menjadi pekerja, menjadi pedagang, atau menjadi petani. Sementara ayahku hanya pegawai biasa. Jasi wajar saja bila aku merekam 3 laguku sebulan yang lalu di Jakarta, aku dipinjami uang oleh teman-teman selingkaran, dan keluarga dekat, sebanyak 7 juta Rupiah {maafkan aku bila hingga kini belum dapat melunasinya, masih menunggu rejeki dari Langitr}.
Manalah mungkin dengan uang 200 ribu di dompetku, aku merekam 3 lagu di Studio di Jakarta. Jangankan mau rekaman, Gitar Akustik saja baru 2 tahun ini aku punya sendiri {satu aku jual tatkala proses rekaman di Jakarta, satunya aku pinjamkan dengan Joni di Ciputat Jakarta, beliaulah yang menata musikku tatkala rekaman 3 lagu di Jakarta}.
Aku tak begitu berharap albumku ini meletus seperti album TOMBO ATI-nya sahabatku Aunur Rofiq Lil Firdaus atau OPICK. Sesuai amanah dan saran dari ibu angkatku Ken Zuraida, cukup memasarkan sendiri saja, dimulai dari lokal. Spasarkan di Pondok-pondok Pesantren, dan sekolah-sekolah. Menurut Joni penata musikku, hanya dengan biaya 30 juta saja, sudah bisa berjalan. Ya....mulai menggadakan seribu keping CD dulu, pelan-pelan saja.
Aku yakin suatu saat ketika, albumku ini akan bertemu jodohnya, seorang Produser impianku, yang tidak memikirkan Matematika, atau untung-rugi, seorang Produser Idealis.
Mungkin melewati hamba-hamba Allah, lewat OPICK, lewat Eddy Santana Putra, T. Wijaya, Conie Sema, Erwan Suryanegara, Syamsul Noor Al Sajidi, Dimas Agoes Pelaz, atau lewat uang sekarung, yang turun dari Langiit....hehehe 99x.....
Album CAHAYA DIATAS CAHAYA INI, sudah lama aku endapkan dan aku pertimbangkan. Terutama masalah prilakuku, apakah sudah selaras dengan lirik lagu-lagu dalam albumku ini. Namun ada sesuatu di hati nuraniku yang mendorong untuk merealisasikan album ini. Setidaknya untuk menasehati, dan mengingatkanku kepada Allah, bila aku sedang dalam keadaan lalai, terlena dengan kehidupan dunia fana ini. Juga untuk mendokumentasi karya-karyaku agar tidak tercecer.
Lagu CAHAYA DIATAS CAHAYA aransemennya memadukan musik Melayu, Latin, dan Funky. Begitupun untuk ke-enam lagu yang lain. Didalam album ini, aku akan mencoba mengangkat musik Slendro, Batanghari Sembilan, dan Melayu. Tentu saja diadon dengan musik-musik Modern kesukaanku, seperti Blues, Reggae, Balada.
Dalam menggarap album ini aku, jalani dengan enjoi dan kesabaran. Sembari mengurusi seratusan ayam kampung peliharaanku, di belakang rumah. Merawat bunga-bunga warisan Almarhumah ibuku, Suplir dan Kuping Gajah. Menanm kebutuhan dapur, Cabai, Jahe, Terong, Katu, dll. Agar tidak menjadi KONSUMTIF........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar