Kesejarahan
Sriwijaya dalam
Kajian Prof Elizabeth Collins
Tabloid
Oncak
Beberapa
waktu lalu Yayasan Kebudayaan Tandipulau, yang beralamat di Jl. Dipenogoro
No. 23
Palembang mendapat tamu penting
dari Amerika Serikat (AS). Tamu penting itu bernama lengkap Prof. Elizabeth
Collins, Ph.D dosen
senior di College
of Art
and Science
of Ohio University, United State of
America.
Beliau ke Palembang dan berkunjung ke Yayasan Kebudayaan Tandipulau sebagai
salah satu
perjalanan studi.
Beliau
didampingi oleh Ketua Women CressesCentre (WCC) Yeni Izie dan disambut langsung
oleh Ketua
Yayasan Tandipulau Erwan Suryanegara, M.Sn bersama para aktifis
yayasan. Ternyata
kedatangan beliau ingin menonton film dokumenter “Napak Tilas Sriwijaya”
merupakan hasil karya Erwan Suryanegara, M.Sn yang berisi hasil penelitian
kajian sejarah yang ditampilkan secara audiovisual. Meskipun proses
pembuatannya menemui banyak kendala namun berkat kerja keras dan kegigihan
Erwan dan kawan-kawan film dokumenter ini berhasil dibuat.
Film
ini sedianya akan di-launching
bulan Juli lalu, namun terbentur berbagai kendala, diantaranya kekurangseriusan
dan ketidaksigapan
Pemerintah
Kota Palembang. Padahal sebelumnya sudah ada
persetujuan dan dukungan dari Walikota Palembang Edi Santana Putra, namun Dinas
Kebudayaan dan
Pariwisata (Disbudpar) Kota Palembang
sampai berita ini ditulis belum menindaklanjuti komitmen dan pernyataan-pernyataan
dukungan yang disampaikan secara langsung oleh Walikota Eddy Santana kepada Tim
kreatif dari Yayasan Kebudayaan Tandipulau. Kenyataan itu tidak menyurutkan tekad para aktifis Yayasan Kebudayaan
Tandipulau.
“Dengan atau tanpa dukungan pemerintah kota dan
pemerintah provinsi, film
dokumenter Napak Tilas Sriwijaya di Bumi
Nusantara tetap diluncurkan secara
estafet di empat
kota, yaitu Palembang,
Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta
sebelum akhir 2012. ” ucap sutradara dan penulis script film dokumenter tersebut.
Dengan
fasilitas seadanya menggunakan layar notebook 10 inci dan speaker sederhana, sang professor duduk lesehan bersama
menonton film dengan seksama. Tak bergeming matanya dari layar LCD notebook tersebut dan fokus mendengar dan
menyaksikan film dokumenter ini. Sang professor mengenakan baju batik dan
celana panjang hitam.
Beliau sedikit pun tak terlihat canggung. Dengan senyum ramah beliau
berbincang-bincang dengan ketua
yayasan dan juga ternyata beliau fasih berbahasa Indonesia walaupun masih
menggunakan dialek
Barat dan agak
kesulitan menyebutkan kata-kata tertentu. Setelah selesai film diputar ibu
Elizabeth masih menyempatkan diri berdiskusi dengan personil yayasan lain. Pada
saat inilah tabloid Oncak mendapat
kesempatan mewawancarai beliau.
Dengan
ramah tapi serius beliau meladeni setiap pertanyaan yang terlontar. Tabloid
Oncak menanyakan bagaimana tanggapan beliau tentang mafaat film tersebut? Ibu Liz (panggilan akrab beliau) langsung menjawab
“Bagus!” sambil mengancungkan kedua jempol jarinya. Kemudian beliau melanjutkan
penjelasannya mengenai manfaat film. Menurut dia film dokumenter Napak Tilas Sriwijaya di
Bumi Nusantara adalah
suatu film untuk
membuka kesadaran masyarakat Sumatra Selatan mengenai sejarah Sriwijaya. Mengenai konsep-konsep keagamaan yang turun seharusnya dijadikan
orang Indonesia sebagai landasan
pembangunan sikap mental dan budaya. Bagaimana membangun Indonesia
dengan cara harmonis, berkebebasan, dan berkeadilan.
Apabila
Indonesia mempelajari dan mengikuti konsep-konsep yang telah diterapkan oleh
Sriwijaya, ujar Prof Eliz,
Indonesia bisa makmur. Beliau mengatakan
dengan tegas dan penuh kepercayaan, “Namun sayangnya…,” Prof
Elizabeth melanjutkan
sambil menghela nafas sambil tersenyum pahit, “Indonesia sekarang ada korupsi,
kekerasan, dan pengrusakan
lingkungan yang menyebabkan kerusakan alam yang sangat banyak.
Hal itu membuat saya
cukup prihatin.”
Menyoal
wawasan apa yang dapat diperoleh beliau setelah menonton film ini,
Prof Elizabeth menerangkan
bahwa sebenarnya beliau telah lama tertarik pada sejarah Sriwijaya yang sebelumnya
beliau telah mencoba mencari namun belum banyak informasi yang dapat diperoleh.
“Ternyata dengan menonton film ini saya dapat semua yang saya belum tahu”.
Sambil senyum sumringah ke arah pimpinan yayasan. “Film ini menambah wawasan
sekali bagi mereka yang ingin tahu, seperti kita ketahui Sriwijaya adalah
kerajaan yang memiliki kebudayaan yang sangat tinggi dapat diketahui pada zaman
sriwijaya sudah ada perkawinan, tempat menginap para pedagang, dan juga tempat yang adil,” lanjut dia.
Erwan
menambahkan, kerajaan Sriwijaya relatif
berbeda dari
kerajaan yang lain,
seperti Kerajaan Majapahit, Singasari dan lainnya yang cenderung menganggap raja sebagai
penjelmaan dewa. Kerajaan
Sriwijaya menganut sistem
kosmosentris dan raja
adalah pemimpin yang memberi keteladanan dan keselamatan bagi
semua makhluk.
Raja adalah
pemimpin yang
membawa rakyatnya ke kehidupan yang sejahtera dan selamat. Dalam baris
akhir isi Prasasti Kedukan Bukit (ditemukan di Palembang dan berangka tahun 682
M) terdapat ungkapan dalam Bahasa Melayu Kuno, berbunyi Sriwijaya jaya siddhayatra subhiksa yang berarti “Perjalan suci
Sriwijaya mencapai kejayaan/kemenangan dan keberhasilan/kesejahteraan”.
Tentu
saja sang professor semakin tertarik berbincang dan ternyata beliau sekarang sedang menggarap sebuah buku setebal tidak kurang dari 300 halaman tentang agama
dan politik di Asia Tenggara.
Beliau
menjelaskan bahwa buku ini berisi tentang agama, politik, dan psikologi yang saling
berkaitan,
yang membentuk suatu kebudayaan.
Buku
ini dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu bagian
kesatu mengenai
abad ke-1
atau prasejarah dimulai dari sejarah tradisi megalitik Dataran
Tinggi Pasemah
sampai zaman penjajahan yang berisi tentang bagaimana agama-agama mulai masuk, seperti agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Dalam
bagian ini juga dibahas bagaimana
budaya-budaya mulai terbentuk berdasarkan konsep-konsep agama agar dapat membuat
masyarakat menjadi makmur; bagian
kedua
berisi pembahasan tentang zaman
penjajahan oleh
bangsa Belanda, Inggris, dan Prancis; bagian ketiga berisi zaman setelah Perang Dunia ke-2, masa tahun 1980-an di mana mulai sudah ada peran serta
Bank Dunia, IMF,
dan paham neoliberalisme yang mulai menjadikan
konsep-konsep yang ada tergerus sehingga
kesenjangan sosial antara si kaya
dan si miskin
kian jauh.
Tabloid
Oncak tersentak
mendengar penjelasan beliau.
Seorang
professor asal Amerika Serikat cukup prihatin
dengan keadaan rakyat Indonesia. Prof Eliz
sempat menanyakan pukul berapa pada saat itu karena beliau ada jadwal lain. Tabloid Oncak masih memiliki waktu 10 menit
untuk bertanya. Apa pendapat dan harapan beliau setelah menonton film
Napak Tilas Sriwijaya di Bumi Nusantara? Menurut beliau,
“Perlu
ada kerjasama dengan gubernur yang baru, Universitas Sriwijaya, IAIN Raden Fatah, dan lain-lain kalangan perguruan tinggi dalam
mengangkat sejarah untuk membuka kesadaran masyarakat dan generasi muda. Film
ini akan saya bawa ke tempat saya mengajar dan akan ditonton oleh mahasiswa,
mahasiswi dari Indonesia dan negara-negara
lain. Ini
menjadi penting untuk mahasiswa dan mahasiswi
Indonesia agar mereka tahu tentang sejarah negara
mereka sendiri. Bagi mahasiswa dan mahasiswi dari negara-negara
lain bisa mengerti bahwa Indonesia memiliki sejarah Sriwijaya yang berkebudayaan
sangat tinggi, berkuasa hampir tujuh abad, dan fakta itu dapat diketahui
dari artefak-artefak
atau pun
situs-situs peninggalannya yang sudah ditemukan.
Ketua Yayasan Kebudayaan
Tandipulau Erwan Suryanegara tersenyum dan mengangguk setuju.
Erwan lalu menimpali,
berdasar artefak-artefak yang ada dapat dikaji secara
ilmiah betapa di di
zaman Sriwijaya sudah ada karya seni rupa,
seni
musik,
seni
teater, arsitektur (tata ruang), perkebunan, dan teknologi
terutama teknologi kelautan.
Akhirnya
waktu telah menunjukkan pukul 05.00 sore. Dengan penasaran tabloid
Oncak bertanya mengenai buku Prof Eliz yang ternyata
mempunyai perhatian terhadap kehidupan sosial rakyat Indonesia. Prof Eliz menerangkan, “Saya ingin mengkaitkan agama,
politik,
dan psikologi dalam konsep pembentukan budaya dalam masyarakat,
karena Indonesia adalah negara yang
sangat kaya dan saya pernah menulis buku tahun 2009 yang menggambarkan
kegagalan kebijakan politik pembangunan yang justru menyebabkan kemiskinan
ekstrim dan merebaknya korupsi secara sistemik, sehingga
menyebabkan kesenjangan yang sangat jauh antara si kaya
dan si miskin.
Buku
itu
berjudul Indonesia Dikhianati. Tak dinyana Prof Eliz cukup memahami secara mendalam kondisi Indonesia. Sebelum Prof Eliz
berpamitan pulang, tabloid
Oncak menyempatkan
diri untuk foto bersama. Erwan berikut para aktifis Yayasan Kebudayaan Tandipulau
bersama tabloid
Oncak dengan berat hati mengantar ke depan halaman dan menatap kepergian Prof Eliz
menuju kota lain sebagai kunjungan studinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar